Langsung ke konten utama

Mengapa Perlu Belajar Sejarah?


Mengapa Perlu Belajar Sejarah?
Oleh : Sondang Sitompul, S.Pd

Jangan sekali-kali melupakan sejarah (JASMERAH) istilah Soekarno ini mungkin bukan sekedar pepatah yang indah melainkan menunjukkan adanya sebuah keharusan, tindakan progresif dan perlu diwariskan dari generasi kenegerasi. Pernahkah anda bertanya dalam hati, mengapa saya ada, atau bagaimana kehidupan yang demikian komplek ini terjadi? Memang, agama memberikan jawaban. Akan tetapi, apakah akan berhenti sampai disitu, sebab dalam ajaran agama juga diakui Tuhan memberi manusia kelebihan, yakni kemampuan untuk berpikir.
Harus diakui bahwa setiap peristiwa tidak akan mungkin terjadi begitu saja, peristiwa juga tidak berdiri sendiri tanpa peristiwa lainnya, dengan kata lain segala yang ada dibumi ini disebabkan oleh materi (nyata ada ) yang mendahuluinya. Maka belajar Sejarah adalah sesuatu yang mesti dilakukan. Setidaknya dengan mempelajari Sejarah, akan dapat menemukan metode yang lebih tepat untuk memahami dan mencoba menjawab sebab akibat dari suatu peristiwa – peristiwa yang ada, serta mampu untuk memberikan gambaran tentang tindakan yang akan dilakukan demi masa depan.
Berpikir
Berpikir adalah sebuah proses, dimana sebuah objek yang diterima oleh panca indera kemudian masuk ke otak, dari dalam otak muncul respon (tanggapan). Respon inilah kemudian yang disebut dengan tindakan, baik berupa sikap diam, ucapan, lompatan maupun tindakan lainya. Namun pada umumnya proses berpikir akan lebih cepat jika objek yang ada sudah tersimpan didalam otak sebab seperti disebut Ardi Gunawan seorang Master Coach dalam buku 7 metode terlarang Melijitkan Daya Ingat Hingga 1000%, bahwa otak manusia seperti alam semesta, yang tidak terbatas dan tidak mempunyai ujung.
Sejarah adalah suatu tindakan, aktivitas untuk berpikir kritis dan sistematis. Sejarah adalah aktivitas untuk berpikir secara mendalam tentang pertanyaan-pertanyaan besar dalam hidup manusia (apa,siapa,mengapa,bagaimana, kapan dan berapa) peristiwa yang demikian dapat terjadi. Karena peristiwa merupakan objek yang nyata maka aktivitas, tindakan mendalam untuk melihat suatu peristiwa demi peristiwa akan memunculkan tindakan kristis untuk memberikan gambaran tentang apa yang akan (harus) dilakukan.  Perlu diingat, Sejarah ada sejak manusia ada,  sebab manusia tidak akan pernah lepas dari sederetan peristiwa yang dialami kecuali manusia berakhir.
Ketika belajar Sejarah maka akan berjumpa dengan pemikir sejarah pertama yakni Herodotus, yang kemudian disebut sebagai Bapak sejarah. Dalam perkembanganya kini sejarah sudah dibagi kedalam: Sejarah Nasional dan Sejarah lokal, sejarah Politik, sejarah Ekonomi dan Sosial. Untuk para pemimpin; Presiden, Gubernur , Walikota sampai Kepala Desa, Sejarah amat berguna untuk memperluas wawasan berpikir.
Kemampuan-kemampuan Penting
Seperti uraian sebelumnya, dengan belajar Sejarah akan mendapatkan beberapa kemampuan sebagai berikut;
1.      Berpikir objektif: bukan subjektif.  Suatu ketika sedang belajar disekolah terdengar sebuah benturan keras dari luar sekolah beberapa siswa terkejut lalu terdengar berteriak berbagai macam, ada yang menyebut (“ 1. Ya Allah,  2. Mati Kau, 3. Haa Ampun,”) dan dari mereka juga ada yang ingin melihat langsung ada apa kejadian diluar dengan berkata: “ apa itu?”.  Diantara respon spontan siswa itu terlihat berbagai cara berpikir yang berbeda. Dengan menyebut nama Tuhan menunjukkan cara berpikir sederhana yakni kepasrahaan tentang sesuatu apapun yang terjadi menyerahkan diri kepada yang maha kuasa. Cara berpikir ini merupakan cara berpikir lazim di indonesia sebagai manusia yang memiliki kepercayaan dan keyakinan yang kuat dan turun temurun.
Namun ada cara berpikir yang kurang lazim yakni pernyataan kedua dan ketiga, pernyataan ini memperlihatkan adanya ketidakharmonisan antara objek yang ada dengan respon yang dilakukan. Sedangkan pernyataan yang terakhir menunjukkan adanya keingintahuan, sebab benturan keras semacam ini mungkin sudah pernah terdengar sehingga sudah tersimpan didalam memori otaknya, muncul keinginan untuk memastikan, keinginan untuk memastikan ini merupakan perintah otak. Cara berpikir ini lebih objektif dibanding dengan siswa lainya.
2.      Berpikir Kritis: benturan keras itu ternyata adalah kecelakaan lalu lintas. Hanya hitungan menit orang berkumpul berkerumun. Diantara kerumunan itu masing-masing juga menunjukkan respon berbeda. Beberapa orang kasihan berkata: 1. ya ampun...,  2. mampus kau! Lalu menjauh. Seorang berkata sambil bertanya “kenapa?, ada apa ?” sambil menolong orang yang sedang terlihat terkapar dijalanan. Respon ketiga lebih menunjukkan cara berpikir kritis karena menunjukkan  tindakan untuk menolong, dan berusaha untuk mencari tahu apa penyebab objek (kejadian) yang sedang terjadi. Kalau dibandingkan dengan hanya memberikan respon sedih atau membuat hujatan tanpa melakukan tindakan nyata. Berpikir kritis akan mendapatkan akar permasalahan dari sebuah peristiwa, untuk mendapatkan akar permasalahan yang lebih jelas tentu dengan melakukan tindakan bertanya.
3.        Berpikir Logis: tindakan yang paling tepat melihat adanya kecelakaan adalah mengangkat korban terkapar dan membawa kerumah sakit. Berpikir logis didasari oleh berpikir objektif dan kritis. Berpikir logis merupakan kemampuan untuk mencari, menemukan dan menentukan akar permasalahan dengan teratur, tepat dan akurat. Kemampuan berpikir logis untuk membentuk argumen secara rasional, serta kemampuan untuk menyampaikan ide secara efektif, kritis, dan rasional, akan membuat mampu berkarya di berbagai bidang, mulai dari bidang informasi-komunikasi, jurnalistik, penerbitan, konsultan, pendidikan, agamawan, ataupun menjadi wirausaha
Dengan belajar Sejarah, akan dilatih menjadi manusia yang utuh, yakni yang mampu berpikir mendalam, rasional, komunikatif. Apapun profesinya, kemampuan-kemampuan ini amat dibutuhkan. Di sisi lain, dengan belajar Sejarah, juga akan memiliki pengetahuan yang luas, tentang kompleksitas kehidupan yang terjadi sepanjang sejarah manusia.
Sejarah mengajak untuk memahami tentang kehidupan, tentang nilai-nilai hidup, dan tentang pengalaman sebagai manusia. Berbagai konsep yang akrab dengan kehidupan, seperti tentang kebenaran, pembuktian, dan fakta serta yang tidak kalah pentinya adalah menarik hubungan sebab akibat dari sebuah peristiwa yang sedang terjadi secara mendalam dari berbagai sisi kehidupan, politik, ekonomi, sosial dan budaya. Belajar dari masa lalu untuk lebih baik dimasa depan, karena Sejarah tidak pernah berbohong, yang ada adalah kebohongan sejarah oleh oknum-oknum yang memanfaatkan sejarah.
Sejarah mengajarkan kita untuk melakukan analisis, dan mengemukakan ide dengan jelas serta rasional. Juga akan menununtun  untuk mengembangkan serta mempertahankan pendapat secara sehat, bukan dengan kekuatan otot, atau kekuatan otoritas politik, maupun dengan kekuatan massa semata. Sejarah adalah komponen penting kepemimpinan. Dengan belajar berpikir secara objektif, kritis dan logis, akan menjadi seorang pemimpin ideal, yang amat dibutuhkan di Indonesia sekarang ini. Jadi tunggu apa lagi? Mari belajar Sejarah!


Diterbitkan pada
HARIAN WASPADA
Jumat, 3 Maret 2017

Komentar