Langsung ke konten utama

Belajar Sejarah dan Pembentukan Karakter bangsa



Belajar Sejarah dan  Karakter bangsa
Oleh : Sondang Sitompul, S.Pd

Belajar sejarah bukan sekedar untuk mengingat-ingat masa lalu, melainkan jika ingin melihat masa depan bangsa salah satunya dengan cara belajar sejarah. Bentuk nyata dari pembentukan karakter itu dimulai dengan memberikan nilai, moral seperti memberikan rasa hormat kepada tradisi leluhur setiap generasi penerus. Foerster seorang ilmuan pernah mengatakan bahwa tujuan utama dari pendidikan adalah untuk membentuk karakter  karena karakter merupakan suatu evaluasi seorang pribadi atau individu serta karakter pun dapat memberikan kesatuan atas kekuatan dalam mengambil sikap disetiap situasi.
Harus diakui bahwa generasi indonesia sekarang memiliki tingkat kompleksitas yang cukup rumit. Banyak ahli memunculkan teori untuk menghadapi kondisi yang sedang dihadapi oleh bangsa indonesia terutama dalam bidang pendidikan. Muncul pandangan – pandangan yang mencoba untuk mengurai persoalan karakter generasi indonesia saat ini.
Pendidikan merupakan satu satunya cara untuk memperbaiki masa depan, dengan pendidikan bangsa akan lebih baik, makmur dan bermartabat dimata dunia. Ciri satu bangsa yang maju adalah tingginya tingkat kemauan, kepedulian dan terciptanya lingkungan masyarakat yang mendukung terhadap pendidikan. Sudah sekian lama masyarakat di Indonesia mendambakan pendidikan yang berkwalitas, nyaman, dan menjamin kehidupan masa depan yang lebih baik serta mampu menjawab tantangan yang terjadi dimasyarakat. Dambaan ini seharusnya bukanlah hanya sekedar  cita-cita, namun lebih jauh lagi merupakan keharusan untuk dilaksanakan dinegeri Indonesia yang kita cintai ini.
Secara bahasa karakter merupakan kebiasaan atau tabiat, secara psikologi juga menyebut bahwa karakter merupakan sebuah keyakinan dan kebiasaan yang mengarahkan tindakan seorang individu. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter, semata –mata bukan hanya tanggungjawab sekolah melainkan dimulai dari keluarga di rumah dan kemudian berlanjut dilingkungan sosial. Pendidikan karakter juga tidak hanya untuk lapisan usia remaja, namun di awali dari mulai anak-anak sampai usia dewasa,  pendidikan karakter mutlak diperlukan demi kelangsungan hidup bangsa indonesia yang berkarakter.
Belajar Sejarah
Secara etimologi sejarah berasal dari bahasa arab yaitu Syajaratun yang diartikan sebagi pohon. Kemudian mengalami perkembangan secara luas menjadi peristiwa dimasa lalu yang berdampak besar terhadap perubahan sosial, budaya, ekonomi dan politik masyarakat. Dari makna ini seharusnya semua dituntut untuk mendalami ilmu sejarah karena sejarah memaparkan pengalaman dan kebaikan umat manusia. Hal ini akan memberikan pengalaman tentang hal yang baik untuk tetap ditingkatkan dan hal yang buruk untuk tidak terulang kembali dalam kehidupan.
Tujuan Mempelajari sejarah yaitu agar kita mengetahui dan memahami akan pentingnya kisah-kisah peradapan dimasa lalu sehingga masyarakat tersebut dapat mengetahui asal-usul bangsa, budaya dan agamanya. Dari sejarah kita bisa mengetahui dan memahami peristiwa penting di masa lalu yang sangat berpengaruh bagi kehidupan dimasa sekarang dan tentunya akan memiliki gambaran kehidupan untuk masa yang akan datang.
Dengan belajar sejarah maka kita akan mampu memahami Nilai, atau pesan yang hendak disampaikan dan akan melihat perubahan dari masa kemasa. Akan tetapi kondisi yang terjadi saat ini, bangsa indonesia justru menjadi bangsa yang mudah lupa akan sejarah bangsanya. Sejarah dianggap barang lama, usang dan sudah ketinggalan jaman. Bahkan belajar sejarah dianggap sebagian besar orang membosankan, kurang bermanfaat ketimbang dengan yang lainya yang memiliki gengsi sendiri. Hal itu dikarenakan sejak awal mempelajari sejarah memiliki kekeliruan diantaranya terpaku pada hapalan nama, lokasi tahun dan peristiwa. Membosankan juga disa terjadi karena kebijakan pemerintah dimulai dari orde baru yang mencampur adukkan masalah politik dengan pembelajaran sejarah.

Sejarah Membentuk Karakter bangsa
Karakter muncul dari dalam diri manusia dipengaruhi oleh keluarga, lingkungan fisik dan sosial, dan pendidikan. Keluarga dan lingkungan juga sangat dipengaruhi oleh pendidikan sehingga pendidikan sebagai pembentuk karakter tidak mungkin diabaikan. Pendidikan formal atau sekolah diharapkan mampu membentuk karakter, dengan pelajaran sejarah akan membentuk karakter bangsa yaitu:
1.      Nilai-nilai Nasionalisme. Dokumen tertulis maupun peninggalan benda-benda bersejarah jika ditelusuri lebih jauh dapat menumbuhkembangkan rasa patriotisme kita terhadap bangsa dan negara. Kehilangan rasa nasionalisme akan menyebabkan bangsa ini semakin dirongrong keamanannya oleh terorisme. Oleh karenanya, menggali nilai nasionalisme adalah harga mati untuk mencintai bangsa dan negara ini.
2.      Sejarah mengajarkan kita untuk mencontoh nilai-nilai perjuangan para pahlawan nasional untuk membebaskan diri dari penindasan bangsa asing. Prinsip sekali merdeka tetap merdeka semasa perjuangan melawan Kolonial benar-benar menginspirasi para pejuang untuk mengusir penjajah dengan menerima segala resiko. Termasuk mengorbankan nyawa sekalipun. Mereka tak gentar meski penjajah memiliki persenjataan yang lebih modern. Nilai berani dan patriot ini masih sangat relevan diterapkan dalam konteks kekinian. Untuk para elite politik, sikap berani ini dapat menjadi pegangan bagi mereka untuk tidak tunduk terhadap tekanan pihak asing.
3.      Belajar sejarah melatih kita untuk memiliki jiwa disiplin dan etos kerja yang tinggi. Belajar sejarah berarti belajar menghargai data sekecil apa pun dan menuntut keseriusan karena menyangkut temuan-temuan akan fakta sejarah. Dengan demikian, belajar sejarah tidak lagi membosankan dan menjemukan. Bahkan, kita dilatih untuk memiliki daya imajinasi yang kuat untuk menggambarkan perjalanan suatu kejadian sejarah di masa lalu. Kebiasaan ini berguna untuk membangun cita-cita luhur dan berusaha keras untuk mewujudkannya. Bangsa Jepang dan China bisa maju karena masyarakatnya sangat menghargai sejarah bangsanya. Mereka akan malu kepada nenek moyang mereka jika tidak berhasil membawa negaranya menjadi bangsa yang maju dan sejahtera.
Belajar sejarah juga membentuk karakter bangsa yang peduli terhadap nilai edukasi. Belajar peninggalan sejarah akan mendorong kita untuk menjadi bangsa yang gemar akan penelitian. Dengan penelitian kita dapat mengungkap “misteri” masa lalu dan mengetahui pesan apa yang ingin disampaikan. Apalagi dalam zaman revolusi mental saat ini, sikap berani untuk mengatakan” tidak” untuk kebijakan yang merugikan rakyat amat diperlukan. Pahlawan kita berani mati demi mempertahankan tanah air nusantara dari kebijakan bangsa asing yang tidak sesuai dengan keinginan masyarakat. Maka dalam kondisi saat ini tugas untuk meneruskan perjuangan mereka dengan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dari orang  yang ingin mencoba untuk melakukan tindakan kontra persatuan. Sikap berani untuk mengungkapkan kebenaran sesuai tuntutan revolusi mental perlu ditingkatkan dengan memberikan bukti – bukti yang dapat diterima secara logis oleh masyarakat dan bukan sebaliknya.
Sejarah sejatinya bukanlah benda mati, namun merupakan bangunan hidup yang memiliki banyak pesan bijak untuk disampaikan ke banyak orang, karena  bentuk nyata dari pembentukan karakter itu dimulai dengan memberikan nilai, moral seperti memberikan rasa hormat kepada tradisi leluhur terutama kepada generasi muda. Menghargai sejarah itu berarti satu langkah menuju bangsa yang beradab, hanya dengan cara inilah, mimpi kita menjadi bangsa yang besar bisa tercapai. Semoga.


Diterbitkan pada
HARIAN WASPADA
Sabtu, 30 Mei 2017

Komentar